"Anak-anak kita mengalami yang namanya tragedi nol buku," kata Retno Lestyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia dalam diskusi bertajuk Riset Struktur Kabinet Indonesia Berdikari di FX Senayan Jaksel pada 9 September 2014.

"Unesco telah melakukan survei tingkat minat baca anak dengan melihat jumlah bacaan buku referensi (bukan buku paket sekolah) di seluruh negara di dunia. Berdasarkan survei ini anak-anak Indonesia hanya membaca 27 halaman per tahun, dengan kata lain anak-anak usia sekolah di Indonesia hanya mampu membaca 1 halaman buku selama 15 hari," lanjutnya.

Kondisi memprihatinkan juga disampaikan mantan Mendikbud Anies Baswedan bahwa kemampuan logika peserta didik Indonesia 3 tahun tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development. Kemampuan logika ini dilihat dari kemampuan membaca dan berhitung. Kenampuan logika hadir bukan dari bisa membaca saja tapi dari memahami bacaan. Karena itu, tidak seharusnya dipaksa untuk bisa membaca namun diajar untuk cinta membaca (Anies Baswedan, Kompas 25 Maret 2015).

Ayo para guru TK juga orang tua jangan lagi punya target bisa baca di usia TK tapi cinta baca sejak dini. Dengan mencintai baca, anak-anak Insya Allah akan mampu membaca. Itulah yang Titaq rasakan. Di sekolah Titaq anak-anak hanya 2 atau 3 yang belum bisa membaca dari 3 kelas yang diluluskan dan Insya Allah mereka semua dikondisikan cinta baca.

Oleh : Titaq Muttaqwiati